Topics :
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Tucuxi dan Diaspora Indonesia

Written By Purbaya Group on Senin, 11 Februari 2013 | 09.44

KOMPAS.com - Bulan Juli 2012, Duta Besar Republik Indonesia di Amerika Serikat, Dino Patti Djalal menggagas pertemuan bersejarah di Los Angeles. Mengapa bersejarah? Karena pertemuan itu dapat dikatakan sebagai pertemuan pertama dan terbesar yang dihadiri oleh para diaspora Indonesia di berbagai negara. Antara lain, warga Indonesia di Qatar, Peru, Jerman, Korea Selatan, khususnya mereka yang bermukim di daratan Amerika Serikat.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sambutan pembukaan pertemuan akbar tersebut melalui rekaman video, disaksikan oleh 1000 undangan yang memadati gedung Los Angeles Convention Center.

Dalam sambutannya, Presiden Yudhoyono dan Duta Besar Dino Patti Djalal menyebutkan betapa tinggi potensi diaspora Indonesia yang bermukim di luar negeri. Menurut Dino Patti Djalal definisi diaspora adalah mereka yang bermukim di luar negeri, termasuk warga negara asing yang memiliki ikatan keluarga dengan Indonesia. Warga negara asing yang mencintai Indonesia pun dapat dianggap sebagai diaspora Indonesia. Meski sementara ini, perhatian utama dari diaspora Indonesia adalah mereka yang memiliki paspor Indonesia.

Dubes Dino memprediksi terdapat 10 juta diaspora Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Angka ini sangatlah besar bahkan hampir menyamai jumlah populasi penduduk di Swedia atau Austria. Secara kualitas, diaspora Indonesia pun bukan diaspora “asal-asalan”. Warga negara Indonesia di Amerika Serikat memiliki pendapatan rata-rata sebesar 59.000 dollar AS setiap tahunnya. Jauh lebih besar dibandingkan warga Amerika Serikat yang pendapatan rata-ratanya sebesar 45.000 dollar AS per tahun.

Di samping itu, 48 persen warga diaspora Indonesia di Amerika Serikat memiliki kualitas akademik di atas sarjana. Sementara, rata-rata penduduk Amerika Serikat yang memiliki kualitas akademik serupa, jumlahnya hanya 27 persen. Tidak hanya di Amerika Serikat, diyakini lebih banyak lagi warga diaspora Indonesia unggul lainnya tersebar di seluruh dunia seperti ilmuwan Indonesia yang tergabung di Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4).

Diaspora Indonesia, menurut Dino Patti Djalal, setiap tahun mengirimkan devisa ke Indonesia hingga mencapai 7 miliar dollar AS atau hampir Rp 70 triliun. Angka yang sangat besar karena nyaris menyamai jumlah dana otonomi khusus pada APBN-P 2012 yang ditransfer pemerintah pusat ke pemerintah daerah.

Tawaran pemerintah
Menyadari betapa besar dan strategisnya potensi diaspora Indonesia, Presiden Yudhoyono secara langsung mengajak para perantau ini untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam pembangunan nasional. Presiden juga memberikan perhatian khusus kepada diaspora Indonesia. Sebagai contoh, Presiden telah memerintahkan untuk membentuk Desk Diaspora Indonesia di bawah koordinasi Kementerian Luar Negeri RI.
Tidak hanya itu, Presiden juga memerintahkan Kementerian Hukum dan HAM RI untuk menyusun regulasi visa khusus bagi diaspora Indonesia yang telah berganti kewarganegaraan. Apapun dilakukan untuk menarik diaspora Indonesia untuk kembali ke Indonesia dan mengembangkan potensinya untuk pembangunan Indonesia.

Pernyataan Presiden ini mendapat sambutan baik dari warga diaspora yang hadir dalam pertemuan tersebut. Termasuk delegasi Dewan Perwakilan Rakyat yang turut hadir pada acara tersebut. Wakil Ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso menyambut aspirasi ribuan diaspora Indonesia yang hadir dan berjanji akan memperjuangkan aspirasi mereka di Senayan.

Di tingkat kementerian, Menteri BUMN, Dahlan Iskan turut mengajak salah satu diaspora Indonesia, Dr. Danet Suryatama, lulusan Universitas Michigan, Amerika Serikat yang berprestasi di kancah internasional untuk bergabung dalam kelompok “Putra Petir”. Sebuah inisiasi untuk mengembangkan inovasi mobil listrik. Karirnya di bidang otomotif sangat cemerlang di bawah bendera Chrysler dan Mitsubishi. Danet dapat dikatakan satu dari banyak diaspora yang kembali ke Indonesia dan mengembangkan keilmuannya di dalam negeri.

Pelajaran penting
Pemberitaan mengenai Danet Suryatama dan Dahlan Iskan terkait proyek mobil listrik Tucuxi patut menjadi perhatian bagi para diaspora. Hubungan manis yang berbuah produktif berupa mobil listrik buatan lokal pun berakhir pahit dengan kecelakaan yang dialami Dahlan ketika melakukan test drive di Magetan.

Danet, seperti dikutip dari berbagai berita, sangat kecewa kepada Dahlan Iskan karena dianggap telah melanggar perjanjian dalam hal hak kekayaan intelektual mobil listrik Tuxuci ini. Mobil listrik yang diproduksi oleh Danet dan timnya di Elektrikcar, dinilai telah “dioprek” oleh pihak lain secara sengaja tanpa sepengetahuan dan izinnya.

Menurut Danet, kecelakaan yang terjadi yang diduga karena perubahan spesifikasi setelah “dioprek” sehingga Danet menyatakan tidak bertanggung jawab karena adanya perubahan spesifikasi antara mobil listrik yang diproduksi Danet dengan mobil listrik yang telah “dioprek” di tempat lain tanpa izinnya.

Bagaimana reaksi Dahlan Iskan? Seperti biasa, Dahlan tidak menanggapi serius tudingan itu dan memilih untuk terus menguji mobil mewah seharga Rp 1,5 miliar ini. Walau pada akhirnya mobil itu rusak dan tidak bisa dipakai kembali sedangkan Danet sendiri saat ini memilih untuk kembali ke Amerika Serikat.

Jika kekecewaan Danet tidak diselesaikan dengan baik, dapat berimplikasi pada menguatnya pesimisme diaspora Indonesia terhadap pemerintah Indonesia yang selama ini mereka rasakan. Benarkah pemerintah Indonesia satu suara dan all out untuk mengajak diaspora Indonesia mengembangkan potensinya di dalam negeri?

Sebenarnya ada solusi lain, yaitu inisiasi swasta untuk menggandeng diaspora ini tanpa campur tangan pemerintah. Hal ini dilakukan oleh salah satu konglomerat Indonesia, Chairul Tanjung pada saat bertemu dengan para profesional Indonesia di Silicon Valley beberapa hari setelah Kongres Diaspora di Los Angeles. Chairul menantang para profesional itu untuk menyampaikan ide-ide brilian dan jika benar berpotensi, ajakan kerja sama pun akan diberikannya.

Apapun itu, fenomena diaspora Indonesia ini sebaiknya tidak mutlak difokuskan pada kesiapan para perantau untuk mengembangkan kapasitasnya di dalam negeri saja. Tapi juga kesiapan publik Indonesia di dalam negeri dalam menerima kembali diaspora untuk pulang kampung dan beraktivitas di dalam negeri yang pastinya memiliki kultur dan budaya berbeda dengan negara tempat para diaspora beraktivitas. (Willy Sakareza)

Satu Kunci Jadi Wirausaha ala Habibie

Written By Purbaya Group on Rabu, 30 Januari 2013 | 09.41

KOMPAS.com — Presiden ketiga Republik Indonesia, BJ Habibie, menjelaskan, ada satu kunci menjadi wirausaha. Ini akan menjadi modal dasar bagi semua wirausaha untuk berbisnis di segala kondisi.
"Kuncinya hanya satu, harus berorientasi pada pasar," kata Habibie saat konferensi pers pada acara Wirausaha Muda Mandiri di Jakarta Convention Center, Kamis (17/1/2013).
Menurut Habibie, orientasi pasar ini begitu penting karena semua yang berbisnis akan berorientasi pada penjualan. Jika penjualan tidak ada pasarnya, berbisnis pun jadi nihil. Orientasi pasar ini merupakan hal yang wajar dan sesuatu yang normal. Saat berbisnis apa pun, pengusaha diminta untuk tidak meninggalkan orientasi pasar yang akan disasar.
Habibie mencontohkan, dia rela kembali ke Indonesia dan membuat industri strategis berupa bisnis pembuatan pesawat terbang. Sebenarnya, bisnis pesawat terbang itu kecil, volumenya tinggi, dan bisa menyerap banyak tenaga kerja.
Buktinya, PT Dirgantara Indonesia yang dia rintis memiliki jumlah pekerja hingga 48.000 orang. Namun karena rezim Orde Baru yang melemahkan PT Dirgantara Indonesia, kini jumlah pekerjanya tersisa hanya 4.000 orang.
"Kita pernah berjaya dengan industri pesawat terbang tersebut, tapi kini mau mati suri. Industri ini harus dibangkitkan kembali. Kalau tidak, kita akan kembali ke zaman 1945, ketika kita tidak memiliki industri itu," kenangnya.
Menurut dia, berbisnis tidak perlu tips dan trik. Untuk trik, hal itu justru merupakan sesuatu yang tidak layak dan tidak perlu dilakukan.
Untuk tips, Habibie berpesan bahwa semua orang, baik berbisnis maupun tidak, harus kredibel dalam segala kondisi. Artinya, orang tersebut harus bisa dipercaya bagi setiap orang yang menemuinya.
"Kalau itu Anda bisa lakukan, uang akan mengejar Anda," tuturnya.

Akhir dari Era Ratu untuk Rakyat

Written By Purbaya Group on Jumat, 25 Januari 2013 | 12.56

Ratu Beatrix (kiri), Pangeran Willem-Alexander (tengah), dan Putri Maxima bergembira mendengar lagu tradisional Belanda yang dinyanyikan pelajar sekolah Belanda dalam kunjungan ke Singapura, Jumat (25/1).

Michael Coyle masih berusia tiga tahun ketika taman bermainnya di Castlemilk, Glasgow, Skotlandia, kedatangan tamu penting. Saat itu, Coyle terpilih untuk menyerahkan karangan bunga dan setangkup roti lapis kepada tamu itu.

Dua puluh tahun kemudian, Senin (28/1), tamu penting itu, Ratu Beatrix dari Belanda, mengumumkan akan turun takhta pada 30 April mendatang dan menyerahkan takhtanya kepada putra mahkota, Prins van Oranje Willem-Alexander. Dan, Coyle masih mengingat jelas betapa hangatnya sambutan Ratu saat itu.

”Saya ingat memberinya roti lapis selai dan karangan bunga. Dia sangat ramah dan berkata ’terima kasih’. Yang paling saya ingat, dia terus memegang roti itu, lalu naik ke mobil dan memakannya. Lucu juga melihat Ratu makan roti lapis. Dia terlihat sangat ramah dan selalu tersenyum,” kenang Coyle, yang kini menjadi mekanik, kepada harian Daily RecordSkotlandia.

Kenangan pemuda Skotlandia itu juga dirasakan mayoritas rakyat Belanda. Kecintaan mereka kepada sang Ratu membuat rakyat menyebutnya dengan panggilan masa kecilnya, ”Bea”.

Putri sulung Ratu Juliana ini mewarisi takhta dari ibunya, 30 April 1980, saat Belanda dalam situasi ekonomi yang sulit. Tepat pada hari Beatrix dinobatkan sebagai Ratu Belanda, kerusuhan terjadi hanya beberapa ratus meter dari lokasi penobatannya. Kerusuhan dipicu bentrokan polisi dan pengunjuk rasa yang memprotes minimnya permukiman bagi warga.

Namun, Beatrix berhasil membawa ketenangan pada bangsa yang kerap mengalami masalah asimilasi dengan semakin banyaknya imigran itu. Terutama setelah tewasnya politisi populis Pim Fortuyn tahun 2002 dan pembunuhan sutradara film Theo van Gogh oleh seorang militan, dua tahun kemudian.

”Ini akhir sebuah era dan dia telah menjadi ratu yang baik,” kata Paul Hofstra (62), warga Den Haag, tentang Beatrix.

”Saya tak terlalu peduli dengan kerajaan, tetapi betul, dia ratu yang luar biasa, ratu untuk rakyat,” kata Leo van der Horst (65), yang melintas di depan Istana Huis ten Bosch, kediaman resmi Ratu di timur laut Den Haag.

Harian terbesar Belanda, NRC, menilai Beatrix sangat profesional, serius, dan disiplin. Dia sangat menguasai apa yang dibicarakan serta menyukai detail dan rinci. Penampilannya juga selalu sempurna.

Terlahir dengan nama Beatrix Wilhelmina Armgard pada 31 Januari 1938, Beatrix bersama ibu dan adiknya, Irene, sempat mengungsi ke London, kemudian tinggal lima tahun di Kanada selama Perang Dunia II. Dia menjadi putri mahkota saat Juliana dinobatkan sebagai Ratu, 6 September 1948, kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Leiden dan meraih gelar sarjana hukum.

Pernikahannya dengan Claus von Amsberg, aristokrat Jerman, tahun 1966, mengundang protes karena masa lalu Pangeran Claus yang pernah bergabung dalam Angkatan Muda Hitler, yang diasosiasikan dengan Nazi Jerman. Namun, sama seperti Ratu Beatrix, ketenangan dan keramahan Claus mampu merebut simpati rakyat. Saat tutup usia, tahun 2002, Claus telah menjadi salah satu anggota kerajaan paling populer dan kepergiannya ditangisi rakyat.

Kepergian Pangeran Claus membawa kesedihan mendalam bagi Beatrix. Namun, dia bertahan melewati saat-saat sulit untuk membantu Belanda mempertahankan reputasi bangsa itu sebagai salah satu bangsa paling toleran di dunia.

Monarki

Berbeda dengan monarki lain di dunia, Raja atau Ratu Belanda lebih menyerupai jabatan pemerintahan sebagai kepala negara, yang diteruskan berdasarkan garis keturunan. Dengan demikian, keputusan Beatrix turun takhta pada usia 75 tahun sudah diantisipasi sebelumnya.

Apalagi setelah putra keduanya, Pangeran Johan-Friso, tertimpa longsoran salju saat bermain ski di Austria, tahun lalu. Beatrix kerap menemani Friso yang hingga kini dalam keadaan koma di rumah sakit di London.

Beatrix pun meneruskan tradisi neneknya, Ratu Wilhelmina, dan ibunya, Ratu Juliana, turun takhta sebelum tutup usia.

Harian De Telegraaf menulis ”Terima Kasih, Yang Mulia” untuk Beatrix. Harian Volkskrant memuat 34 foto Beatrix sejak awal memegang takhta, sebagai ibu dari Belanda dan faktor pemersatu masyarakat plural Belanda sehingga bisa hidup bersama dengan rukun.

Banyak pihak berpendapat Beatrix menunggu saat yang tepat sehingga putra sulungnya, Willem-Alexander, memiliki waktu cukup untuk menikmati saat menjadi ayah bagi ketiga putrinya, sebelum mengemban tugas sebagai raja.

Di masa mudanya, Willem-Alexander Claus George Ferdinand sempat menjadi favorit tabloid karena kesukaannya pada mobil mewah dan berpesta sehingga mendapat julukan ”pangeran bir”.

Pilihan Willem-Alexander untuk menikah dengan Maxima Zorreguieta dari Argentina juga mengundang protes. Maxima adalah putri Jorge Zorreguieta, anggota kabinet diktator Argentina Jorge Rafael Videla, di akhir dekade 1970-an.

Namun, Maxima dengan cepat merebut hati rakyat Belanda karena sikapnya yang ramah dan santun, serta dengan cepat menguasai bahasa Belanda. Maxima juga aktif dalam sejumlah proyek pembangunan ekonomi dan lembaga mikro-kredit.

Dukungan Maxima membantu Willem-Alexander sebagai raja meski banyak pihak yang berpendapat dia perlu belajar banyak dari ibunya. (Denny Sutoyo-Gerberding/J Waskita Utama)

Obama, Presiden AS Kedua yang Baca Sumpah Empat Kali

Written By Purbaya Group on Senin, 21 Januari 2013 | 12.57

WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Presiden Barack Obama, menurut jadwal, akan dilantik untuk masa jabatan keduanya pada Senin (21/1/2013) waktu setempat. Dalam pelantikan itu Obama akan membacakan sumpah jabatannya.

Dengan pembacaan sumpah jabatan itu, Obama akan menjadi presiden AS kedua yang membacakan sumpah jabatan sebanyak empat kali setelah Franklin Delano Roosevelt.

Roosevelt, yang memimpin AS di saat Depresi Besar hingga Perang Dunia II, memiliki rekor sejarah lain, yaitu menjadi satu-satunya presiden AS yang memerintah dalam empat kali masa jabatan.

Namun, setelah amandemen konstitusi AS diratifikasi pada 1951, yang salah satu isinya adalah pembatasan masa jabatan presiden AS, maka tertutup sudah kesempatan bagi presiden lain untuk mengalahkan rekor Roosevelt.

Nah, lalu bagaimana Obama bisa mengucapkan empat kali sumpah jabatan?

Pada saat Obama dilantik untuk masa jabatan pertama 2009, Hakim Agung John Roberts salah membacakan kata-kata dalam sumpah jabatan yang kemudian diulangi oleh Obama.

Ternyata di balik layar, ajudan Obama meminta Hakim Roberts untuk kembali datang ke Gedung Putih untuk mengulangi pembacaan sumpah jabatan tanpa kesalahan kata. Jadi di masa jabatan pertama, Obama dua kali mengucapkan sumpah.

Nah, dalam pelantikan untuk masa jabatan kedua, Obama juga akan melakukannya dua kali. Penyebabnya adalah masalah tanggal.

Sesuai amandemen ke-20 konstitusi AS maka masa jabatan seorang presiden habis pada tengah hari 20 Januari. Namun, sesuai tradisi, jika tanggal itu jatuh pada hari Minggu, maka presiden harus mengambil sumpah untuk kedua kalinya di muka publik pada hari berikutnya.

Pembacaan sumpah pertama Minggu (20/1/2013), kembali dengan Hakim Agung John Roberts, dalam sebuah upacara pribadi yang hanya dihadiri keluarga terdekat Presiden Barack Obama dan disiarkan langsung dari Ruang Biru Gedung Putih.

Kali ini tak terjadi kesalahan dan semua prosesi itu selesai dalam waktu kurang dari satu menit.

Dan, pada Senin (21/1/2013), Obama kembali akan mengambil sumpahnya. Dia akan mengangkat tangan kanannya dan meletakkan tangan kirinya di atas kitab suci yang pernah dimiliki Presiden Abraham Lincoln dan pahlawan pergerakan kulit hitam Martin Luther King. Dan, Obama akhirnya mengucapkan sumpah jabatan keempatnya.

Joko Widodo

Written By Purbaya Group on Selasa, 06 November 2012 | 10.05

Ir. H. Joko Widodo (lahir di Surakarta, 21 Juni 1961; umur 51 tahun), lebih dikenal dengan nama julukan Jokowi, adalah Gubernur DKI Jakarta dari 15 Oktober 2012. Ia merupakan gubernur ke-17 yang memimpin ibukota.
Sebelumnya, Jokowi menjabat Wali Kota Surakarta (Solo) selama dua kali masa bakti 2005-2015, namun tidak terselesaikan lantaran terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta.

Masa kecil

Joko Widodo lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo.  Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia terpaksa berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan. Saat anak-anak lain ke sekolah dengan sepeda, ia memilih untuk tetap berjalan kaki. Mewarisi keahlian bertukang kayu dari ayahnya, ia mulai pekerjaan menggergaji di umur 12 tahun.
Penggusuran yang dialaminya sebanyak tiga kali di masa kecil mempengaruhi cara berpikirnya dan kepemimpinannya kelak setelah menjadi Walikota Surakarta saat harus menertibkan pemukiman warga.

Masa kuliah dan berwirausaha

Dengan performa akademis yang dimiliki, ia diterima di Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Kesempatan ini dimanfaatkannya untuk belajar struktur kayu, pemanfaatan, dan teknologinya.
Selepas kuliah, ia bekerja di BUMN, namun tak lama memutuskan keluar dan memulai usaha dengan menjaminkan rumah kecil satu-satunya, dan akhirnya berkembang sehingga membawanya bertemu Micl Romaknan, yang akhirnya memberinya panggilan yang populer hingga kini, Jokowi. Dengan kejujuran dan kerja kerasnya, ia mendapat kepercayaan dan bisa berkeliling Eropa yang membuka matanya. Pengaturan kota yang baik di Eropa menjadi inspirasinya untuk diterapkan di Solo dan menginspirasinya untuk memasuki dunia politik. Ia ingin menerapkan kepemimpinan manusiawi dan mewujudkan kota yang bersahabat untuk penghuninya

Barack Obama

Barack Hussein Obama II (pengucapan bahasa Inggris: [bəˈrɑːk hʊˈseɪn oʊˈbɑːmə]; lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961; umur 51 tahun) adalah Presiden Amerika Serikat yang sekarang menjabat dan merupakan Presiden Amerika Serikat yang ke-44. Barack menjabat sejak 20 Januari 2009 menggantikan George Walker Bush. Sebelumnya ia merupakan Senator Junior dari Illinois dan kemudian menang dalam Pemilu Presiden 2008 pada 4 November 2008. Pada tahun 2009, Obama diumumkan sebagai pemenang anugerah Penghargaan Perdamaian Nobel karena mempromosikan diplomasi internasional untuk memecahkan masalah-masalah internasional.
Obama adalah keturunan Afrika-Amerika pertama yang menjabat Presiden Amerika Serikat setelah sebelumnya merupakan keturunan Afrika-Amerika pertama yang dicalonkan oleh sebuah partai politik besar Amerika untuk menjadi presiden.[1] Lulusan Universitas Columbia dan Sekolah Hukum Universitas Harvard; di sana ia menjabat sebagai presiden Harvard Law Review, Obama bekerja sebagai koordinator masyarakat dan menjabat sebagai pengacara hak sipil sebelum menjadi Senat Illinois selama tiga kali mulai 1997 hingga 2004. Ia mengajar hukum konstitusional di Sekolah Hukum Universitas Chicago sejak 1992 hingga 2004. Setelah kegagalan meraih kursi di Dewan Perwakilan AS tahun 2000, ia mengumumkan kampanyenya untuk Senat AS bulan Januari 2003. Setelah kemenangan Maret 2004, Obama menyampaikan key notenya pada Konvensi Nasional Demokrat Juli 2004. Ia terpilih sebagai Senat pada November 2004 dengan 70 persen suara.
Sebagai anggota minoritas Demokrat di Kongres ke-109, ia membantu membuat undang-undang yang mengatur senjata konvensional dan mempromosikan akuntabilitas publik dalam penggunaan dana federal. Ia juga melakukan perjalanan resmi ke Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika. Selama Kongres ke-110, ia membantu membuat UU mengenai lobi dan kecurangan pemilihan, perubahan iklim, terorisme nuklir, dan perawatan bagi personel militer AS yang pulang. Obama mengumumkan kampanye presidennya pada Februari 2007, dan dicalonkan pada Konvensi Nasional Demokrat 2008 dengan senator Delaware, Joe Biden sebagai pasangan kampanye. Dan Pada tanggal 4 November 2008 Barack Obama sukses mengalahkan rivalnya senator John Mccain dari partai republik dan menjadi presiden amerika ke 44 dan orang kulit hitam pertama sebagai presiden Amerika serikat.

Abraham Lincoln

Written By Purbaya Group on Senin, 05 November 2012 | 09.49


Abraham Lincoln adalah Presiden ke-16 Amerika Serikat. Lincoln menjabat presiden USA sejak 4 Maret 1861 hingga dia terbunuh. Dia memimpin bangsanya keluar dari Perang Saudara Amerika, mempertahankan persatuan bangsa, dan menghapuskan perbudakan. Namun, saat perang telah mendekati akhir, dia menjadi presiden AS pertama yang dibunuh. Sebelum pelantikannya pada tahun 1860 sebagai presiden pertama dari Partai Republik, Lincoln berprofesi sebagai pengacara, anggota legislatif Illinois, anggota DPR Amerika Serikat, dan dua kali gagal dalam pemilihan anggota senat. Lincoln lahir di Hardin County, Kentucky, 12 Februari 1809. Beliau meninggal di Washington, D.C., 15 April 1865 pada umur 56 tahun.

Orang Ini Selamatkan Dunia dari Perang Nuklir

Written By Purbaya Group on Sabtu, 06 Oktober 2012 | 11.21


ORANG ini menyelamatkan dunia dari bahaya perang nuklir pada lima dekade lalu. Ia seorang diri mencegah terjadinya Perang Dunia III. Namun, ia meninggal sebagai orang yang terhina, terbuang, dan tidak terkenal. Baru sekarang kisahnya menjadi sorotan.

Sebuah film dokumenter yang dipertunjukkan pada Selasa (25/9/2012) malam mengisahkan bagaimana selama 13 hari dalam Krisis Misil Kuba pada Oktober 1962, dunia menahan napas saat Uni Soviet dan Amerika Serikat berada di ambang perang nuklir. Pada puncak Perang Dingin itu, ketika paranoia di kedua pihak berada pada kondisi di mana provokasi sekecil apa pun bisa memicu perang nuklir, empat kapal selam Rusia secara diam-diam berlayar menuju ke Kuba.

Bunda Teresa

Written By Purbaya Group on Selasa, 18 September 2012 | 10.15

Bunda Teresa (Agnes Gonxha Bojaxhiu;[1] lahir di Üsküb, Kerajaan Ottoman, 26 Agustus 1910 – meninggal di Kalkuta, India, 5 September 1997 pada umur 87 tahun) adalah seorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania[2][3] dan berkewarganegaraan India[4] yang mendirikan Misionaris Cinta Kasih (bahasa Inggris: Missionaries of Charity) di Kalkuta, India, pada tahun 1950. Selama lebih dari 45 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat, sementara membimbing ekspansi Misionaris Cinta Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya di negara lain. Setelah kematiannya, ia diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II dan diberi gelar Beata Teresa dari Kalkuta.[5][6]
Pada 1970-an, ia menjadi terkenal di dunia internasional untuk pekerjaan kemanusiaan dan advokasi bagi hak-hak orang miskin dan tak berdaya. Misionaris Cinta Kasih terus berkembang sepanjang hidupnya dan pada saat kematiannya, ia telah menjalankan 610 misi di 123 negara, termasuk penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, lepra dan TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan, dan sekolah. Pemerintah, organisasi sosial dan tokoh terkemuka telah terinspirasi dari karyanya, namun tak sedikit filosofi dan implementasi Bunda Teresa yang menghadapi banyak kritik. Ia menerima berbagai penghargaan, termasuk penghargaan pemerintah India, Bharat Ratna (1980) dan Penghargaan Perdamaian Nobel pada tahun 1979. Ia merupakan salah satu tokoh yang paling dikagumi dalam sejarah.
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Purbaya Group - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger