JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi VII dari Fraksi
Partai Keadilan Sejahtera Andi Rahmat menilai permintaan pemerintah
untuk menambah kuota jatah BBM Bersubsidi hanya menguntungkan Agen
Tunggal Pemilik Merek (ATPM).
Hal itu disebabkan kebutuhan BBM
Bersubsidi ini disesuaikan dengan kebutuhan permintaan mobil di
masyarakat yang meningkat dari 940.000 unit mobil menjadi 1,05 juta unit
mobil. Meski permintaan sepeda motor justru turun.
"Kita ini terlalu service demand growth. Yang
diuntungkan itu bukan masyarakat tapi malah industri khususnya Gabungan
Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo)," kata Andi saat Rapat
Kerja Menteri ESDM, BPH Migas dan Pertamina dengan Komisi VII di
Jakarta, Senin (3/12/2012).
Andi menilai, pemerintah terlalu
berpihak ke industri namun justru meninggalkan keberpihakan ke rakyat.
Kendati demikian, hal tersebut merupakan fakta yang harus dihadapi oleh
pemerintah.
Andi menginginkan, kebijakan yang diambil nantinya
juga bisa menguntungkan masyarakat. Soal caranya, Pertamina beserta
Kementerian ESDM maupun BPH Migas harus membuat formula khusus agar BBM
bersubsidi tidak kembali bocor.
Soal dana, Andi menyatakan
sebenarnya Menteri Keuangan belum memberikan lampu hijau terkait alokasi
dana untuk penambahan kuota BBM Bersubsidi ini. Sebab, dana ini memang
harus disediakan di APBN 2013, sementara dana ini harus segera dicairkan
pada sebelum akhir tahun 2012. "Otomatis Pertamina harus menalangi
dulu," katanya.
Dengan mekanisme pembayaran seperti ini, DPR tidak
ingin disalahkan karena APBN Perubahan di 2012 pun juga sudah diketuk.
Begitu juga dengan APBN 2013. Di kedua APBN tersebut, tidak ada dana
alokasi untuk penambahan kuota BBM Bersubsidi.
"Ini harus ada
payung hukumnya. Jangan sampai DPR yang disalahkan. Soalnya permintaan
pemerintah untuk meminta penambahan jatah kuota BBM ini selalu dilakukan
setiap tahun. Padahal APBN sudah diketuk," jelasnya.
Sekadar
catatan, pemerintah meminta penambahan jatah kuota BBM Bersubsidi
sebesar 1,227 juta KL sebelum akhir tahun 2012. Rinciannya berupa
500.000 KL solar dan 730.000 KL premium. Nilai investasi dari pembelian
BBM Bersubsidi tersebut mencapai Rp 6 triliun.